Bukan Cuma Kabut Asap, Karhutla di Batola Bakar Belasan Ribu Pohon Jeruk Milik Petani

Kerugian materiel akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Barito Kuala (Batola) semakin menjadi dari hari ke hari. Tak hanya kabut asap, tanaman pangan dan hortikultura di atas lahan 102,2 hektare juga ikut terbakar.

Sep 24, 2026 - 23:32
Sep 24, 2026 - 23:51
Bukan Cuma Kabut Asap, Karhutla di Batola Bakar Belasan Ribu Pohon Jeruk Milik Petani
Sebanyak 7.275 pohon jeruk yang sudah mulai berbuah di Kecamatan Rantau Badauh harus menjadi korban keganasan karhutla. Foto: Istimewa

KABARKALSEL.COM, MARABAHAN - Kerugian materiel akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Barito Kuala (Batola) semakin menjadi dari hari ke hari. Tak hanya kabut asap, tanaman pangan dan hortikultura di atas lahan 102,2 hektare juga ikut terbakar.

Rinciannya padi seluas 19,5 hektare telah terdampak karhutla dengan kerugian terbanyak dialami petani di Kecamatan Tabukan, Mandastana dan Tamban.

Kemudian sebanyak 13.355 pohon jeruk di Kecamatan Rantau Badauh, Cerbon dan Anjir Pasar juga dipastikan telah mati akibat terbakar. Api pun melalap 1.445 rumpun pisang di Rantau Badauh dan Cerbon. 

Sedangkan tanaman hortikultura lain yang terdampak adalah aneka cabai seluas 0,3 hektare, durian 10 pohon, rambutan 49 pohon, nangka/cempedak 23 pohon dan mangga/kueni 31 pohon.

"Tanaman jeruk yang paling banyak terbakar berada di Kecamatan Rantau Badauh sejumlah 7.275 pohon," papar Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Batola, Wahyu Waguna, Kamis (24/09/2026). 

"Kondisi tersebut sangat disesalkan, mengingat rata-rata jeruk yang terbakar sudah berumur 3 hingga 10 tahun dan mulai berbuah," sambungnya.

Kerugian menjadi semakin terasa menyesakkan, mengingat jeruk juga memiliki peran penting dalam siklus pendapatan petani.

Setelah padi selesai dipanen, jeruk menjadi salah satu sumber pemasukan petani, sebelum memasuki musim tanam padi  berikutnya.

"Hampir sebagian besar jeruk terbakar dalam periode September 2026, seiring peningkatan kejadian karhutla. Kalau sebelumnya cuma kekeringan, tetapi masih dapat ditanggulangi dengan pompanisasi," beber Wahyu. 

"Namun seiring kemarau yang berkepanjangan, pompanisasi terpaksa dihentikan karena air berubah menjadi payau akibat intrusi air laut," tambahnya.

Kerugian yang dialami petani, khususnya pembudidaya tanaman hortikultura, juga menjadi pekerjaan rumah Pemkab Batola di tengah pemotongan anggaran besar-besaran.

"Terlepas dari keterbatasan anggaran pascapemotongan, kami sudah mengajukan bantuan bibit jeruk pengganti kepada Ditjen Hortikultura maupun Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, serta Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kalimantan Selatan," ungkap Wahyu.

"InsyaAllah ketika memasuki musim hujan, bibit jeruk akan segera didrop, tetapi dengan jumlah yang belum dapat dipastikan," tukasnya. 

Bantuan tersebut menjadi opsi paling realistis, mengingat tanaman hortikultura belum tercakup asuransi. Berbeda dengan tanaman padi yang dijamin Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).

"AUTP sendiri sudah pernah diklaim untuk tanaman padi yang terendam banjir di Kecamatan Jejangkit. Adapun premi asuransi ditanggung pemerintah daerah," tutup Wahyu.