Omset Puluhan Juta Per Bulan, Petani di Muara Uya Tabalong Sukses Berbisnis Bibit Sayuran
Bergerak di bidang usaha pembibitan tanaman hortikultura, Kelompok Tani Karya Tama di Desa Kupang Nunding, Kecamatan Muara Uya, Tabalong, mampu meraih omset mencapai Rp30 juta per bulan.
KABARKALSEL.COM, TANJUNG - Bergerak di bidang usaha pembibitan tanaman hortikultura, Kelompok Tani Karya Tama di Desa Kupang Nunding, Kecamatan Muara Uya, Tabalong, mampu meraih omset mencapai Rp30 juta per bulan.
Usaha yang dirintis sejak 2024 tersebut dinilai cukup menjanjikan, seiring peningkatan kebutuhan bibit tanaman hortikultura di kalangan petani.
Bahkan permintaan tidak hanya datang dari Tabalong maupun kabupaten/kota lain di Kalimantan Selatan. Tidak sedikit pula pesanan yang datang dari Kalimantan Tengah.
"Awalnya kami mendapat bantuan bangunan dari instansi terkait, lalu dikembangkan sendiri," papar salah seorang anggota Kelompok Tani Karya Tama, Gatot Supriyono, dikutip dari Antara, Jumat (01/05/2026).
Dengan memanfaatkan lahan berukuran 6 x 30 meter, kelompok tani tersebut mampu memproduksi ratusan ribu bibit sayuran dalam satu siklus. Jenis bibit yang dihasilkan meliputi cabai keriting, cabai tiung, tomat, terong, dan berbagai tanaman hortikultura lain.
Meski lahan dan peralatan terbatas, usaha bibit sayuran terus berkembang seiring peningkayan permintaan pembeli dari petani lokal.
"Dari sekian tanaman hortikultura, bibit terong, tomat, dan cabai menjadi komoditas paling diminati pasar. Kurang dari satu bulan setelah proses semai, bibit sudah siap jual,” jelas Gatot.
Adapun bibit terong dijual seharga Rp110 ribu per kotak (isi 250 bibit), tomat Rp225 ribu (isi 750 bibit), cabai keriting Rp225 ribu dan cabai tiung Rp100 ribu per kotak.
Selain digunakan untuk menggaji anggota, sebagian keuntungan dari hasil penjualan dialokasikan untuk kas kelompok sebesar Rp500 ribu setiap periode.
Meski menunjukkan perkembangan positif, usaha Kelompok Tani Karya Tama masih menghadapi sejumlah kendala, terutama keterbatasan sarana dan prasarana.
Beberapa kebutuhan mendesak antara lain alat pengaduk pupuk, sepeda motor roda tiga untuk pengangkut, sumur gali, dan tambahan modal usaha.
Sekarang mereka masih mengandalkan sewa mobil pikap untuk distribusi bibit ke konsumen. Sementara stok benih, sebagian besar dibeli daring.

