Kabut Asap Karhutla Selimuti Mandastana Batola, Perempuan Penderita Asma Meninggal Dunia

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Barito Kuala (Batola) semakin pekat dari hari ke hari.

Oct 14, 2026 - 20:35
Oct 14, 2026 - 22:03
Kabut Asap Karhutla Selimuti Mandastana Batola, Perempuan Penderita Asma Meninggal Dunia
Situasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Ray 4 Desa Puntik Tengah, Kecamatan Mandastana, Selasa (12/10/2026) malam. Foto: Istimewa

KABARKALSEL.COM, MARABAHAN - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Barito Kuala (Batola) semakin pekat dari hari ke hari.

Kondisi tersebut diduga memperburuk asma yang diderita Nor Budiani, sehingga warga Ray 5 RT 04 Desa Puntik Tengah, Kecamatan Mandastana, ini meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit, Selasa (13/10/2026) malam.

Berdasarkan informasi dihimpun, perempuan berusia 51 tahun itu terus-menerus batuk dalam beberapa pekan terakhir. Derita yang dialami Nor Budiani beriringan dengan kabut asap yang kian pekat menyelimuti desa sekitar.

Sebelum meninggal dunia, Nor Budiani didiagnosis mengalami status asmatikus atau serangan asma yang sangat parah, akut, dan tidak merespons pengobatan standar seperti inhaler atau nebulizer bronkodilator.

"Beliau memiliki riwayat penyakit asma yang dapat kambuh sewaktu-waktu, bahkan tanpa terpapar asap sekalipun. Makanya beliau tercatat menjalani pengobatan teratur," papar Kepala Puskesmas Mandastana, dr Rusdiani, Rabu (14/10/2026).

"Kemudian beliau terkena serangan asma mendadak yang menyebabkan sesak napas, sebelum dibawa ke rumah sakit menggunakan ambulans," tambahnya.

Sementara Kepala Desa Puntik Tengah, Rudi Waluyo, menjelaskan kondisi sekeliling memang diselimuti kabut asap yang cukup tebal dalam beberapa hari terakhir.

"Kami turut berbelasungkawa atas kepergian beliau. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kekuatan," ungkap Waluyo ketika dikonfirmasi terpisah.

"Memang dalam beberapa hari terakhir, kabut asap kian parah dan membuat jarak pandang di bawah 10 meter. Tidak hanya asap kiriman, karhutla juga sudah mendekati permukiman," imbuhnya.

Untuk menanggulangi karhutla, terutama yang sudah mendekati permukiman di Ray 4 dan Ray 5, proses pemadaman dilakukan tanpa mengenal waktu oleh Manggala Agni dan sejumlah unit relawan dari Batola maupun Banjarmasin.

Warga pun tidak tinggal diam. Mereka yang tidak ikut langsung dalam pemadaman, menyediakan makan dan minum, serta menyuplai Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk relawan.

"Pemadaman menggunakan sumber air dari sungai. Namun kalau sedikit lebih jauh dari sungai, digunakan selang enam sambungan," jelas Waluyo. 

"Selain lahan kosong, api juga membakar persawahan yang sudah dipanen. Namun tanaman lain seperti jeruk dan rambutan tidak lagi dapat diselamatkan," tukasnya.

Mengutip data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Batola, kabut asap akibat karhutla telah merenggut 5 nyawa yang terdiri dari personel lapangan dan relawan. Kemudian 6 rumah juga dilaporkan terbakar.

Fakta tersebut lantas mendorong Pemkab Batola untuk meningkatkan status penanganan karhutla dari siaga darurat menjadi tanggap darurat, Selasa (13/10/2026).