Karhutla Kalsel Tembus 1.552 Kejadian, 6.029 Hektare Lahan Terbakar
Kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi momok di Kalimantan Selatan. Hingga 18 Agustus 2026, tercatat 1.552 kejadian dengan perkiraan luas lahan terdampak mencapai 6.029,67 hektare.
KABARKALSEL.COM, BANJARMASIN – Kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi momok di Kalimantan Selatan. Hingga 18 Agustus 2026, tercatat 1.552 kejadian dengan perkiraan luas lahan terdampak mencapai 6.029,67 hektare.
Dampak karhutla pun mulai terasa di sejumlah wilayah. Setiap pagi kabut asap menyelimuti beberapa kawasan, mengganggu aktivitas masyarakat hingga sempat berdampak terhadap penerbangan di Bandara Internasional Syamsudin Noor.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel, wilayah dengan kejadian dan luasan karhutla terbesar adalah Banjar, Tanah Laut dan Banjarbaru.
Banjar mencatatkan 286 kejadian dengan luas lahan terdampak mencapai 1.347,62 hektare. Berikutnya Tanah Laut dengan 263 kejadian dan luas lahan terbakar sekitar 1.244,08 hektare.
Sedangkan Banjarbaru menjadi daerah dengan jumlah kejadian tertinggi hingga 322 kejadian dengan luas lahan terdampak sekitar 1.029,7 hektare.
Situasi tersebut menjadi perhatian banyak pihak, karena kualitas udara menurun dan berpotensi berdampak terhadap kesehatan masyarakat.
Berbagai upaya antisipasi pun dilakukan seperti Satlantas Polresta Banjarmasin yang membagikan 300 masker kepada pengendara sepeda motor di Jalan Lambung Mangkurat.
Langkah serupa dilakukan Polsek Banjarmasin Tengah. Sebanyak 500 masker dibagikan di Kompleks Pelajar Mulawarman yang menjadi salah satu titik ramai dilalui masyarakat, termasuk para pelajar.
Sementara Satpolairud Polresta Banjarmasin turut menyasar masyarakat yang beraktivitas di Sungai Barito. Sebanyak 100 masker dibagikan Marnit Patroli Multifungsi Terapung di Dermaga Penyeberangan Alalak dan KM Berkat Bersama.
Ancaman karhutla juga membuat sejumlah daerah di Kalsel meningkatkan status kewaspadaan. Sudah 7 kabupaten/kota yang menetapkan status siaga darurat. Mulai dari Banjarbaru, Banjar, Tapin, Barito Kuala, Tanah Bumbu, Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Utara.
Sementara Pemprov Kalsel sebelumnya juga telah menetapkan status siaga darurat karhutla yang berlaku sejak 6 Juli hingga 31 Oktober 2026.
Untuk mempercepat penanganan, Pos Komando Penanganan Darurat Bencana (PDB) Karhutla telah diaktifkan sejak 7 Juli 2026.
“Kami mengimbau masyarakat agar tidak lagi membakar lahan, jangan membuang puntung rokok sembarangan dan membersihkan lahan masing-masing,” papar Kepala BPBD Kalsel, Ronny Eka Saputra, Kamis (20/08/2026).
“Kalau melihat atau mengetahui ada titik api, segera melaporkan keoada pihak berwenang agar dapat dengan cepat dilakukan penanganan,” imbuhnya.
Selain di Banjarmasin dan Banjarbaru, kabut asap sudah mengganggu kesehatan masyarakat di Hulu Sungai Selatan (HSS). Ditandai dengan peningkayan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) HSS mencatat sebanyak 1.592 kasus ISPA selama periode minggu ke-29 hingga minggu ke-32 2026.
Data laporan ISPA yang dihimpun dari fasilitas pelayanan kesehatan, Puskesmas Baruh Jaya mencatatkan angka terbanyak hingga 63 kasus dalam periode 9 hingga 15 Agustus 2026.
Angka tersebut sejalan dengan Indeks Kualitas Udara (AQI) di HSS yang mencapai 168 poin atau kategori tidak sehat. Sedangkan Banjar menempati urutan teratas di Kalsel dengan 176 poin.
“Memang kabut asap akibat karhutla berpotensi meningkatkan kasus ISPA. Namun peningkatan kasus tidak bisa serta-merta sepenuhnya dikaitkan dengan kabut asap," beber Kabid Penanggulangan Penyakit dan Kesehatan Lanjutan Dinkes PPKB HSS, Artaty, Rabu (19/08/2026).
"ISPA juga dapat disebabkan berbagai faktor, terutama infeksi virus dan bakteri. Sedangkan kabut asap lebih tepat dipandang sebagai salah satu faktor risiko yang dapat memperburuk atau memicu keluhan pernapasan," imbuhnya.

