Tatkala Bahasa Bakumpai Perlahan Kehilangan Bunyi di Tanah Kelahiran

Seperti ratusan tahun lalu ketika para pedagang dari hulu dan hilir berjumpa, lalu bertransaksi di Bandar Muara Bahan (sekarang Marabahan) dan melahirkan Bahasa Bakumpai, Sungai Barito masih mengalir dengan tenang.

Jan 23, 2026 - 23:25
Jan 24, 2026 - 04:09
Tatkala Bahasa Bakumpai Perlahan Kehilangan Bunyi di Tanah Kelahiran
Koordinator Hapakat, Rusdiansyah, menerima Kamus Bahasa Bakumpai dari Kepala Balai Bahasa Kalimantan Selatan, Armiati Rasyid, usah diskusi terpumpun yang digelar Hapakat, Jumat (23/01/2026). Foto: Kabar Kalsel

KABARKALSEL.COM, BANJARMASIN - Seperti ratusan tahun lalu ketika para pedagang dari hulu dan hilir berjumpa, lalu bertransaksi di Bandar Muara Bahan (sekarang Marabahan) dan melahirkan Bahasa Bakumpai, Sungai Barito masih mengalir dengan tenang.

Namun perlahan menyeruak sekian keresahan, karena Bahasa Bakumpai yang sempat mewarnai kejayaan Bandar Muara Bahan, kian jarang terdengar di tanah kelahiran. 

Keresahan itu pun mengemuka dalam diskusi terpumpun yang digelar Hapakat (Wadah Diskusi Merawat Ke-Bakumpai-an), Jumat (23/01/2026) sore. 

Mengusung tema 'Keberadaan Bahasa Bakumpai: Dari Hulu (Bi Ngaju) sampai Hilir (Ngawa)', forum mempertemukan pemerintah, akademisi, pemerhati bahasa, hingga politisi lintas provinsi.

Kepala Balai Bahasa Kalimantan Selatan, Armiati Rasyid, membuka diskusi kedelapan yang digelar Hapakat tersebut dengan sebuah paradoks. 

Sejatinya bahasa daerah terus memperkaya Bahasa Indonesia. Tercatat 208.000 lema (kata atau frasa masukan) dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) hingga 2025. Sebanyak 80.000 lema di antaranya berasal dari bahasa daerah. 

Di sisi lain, dunia sedang menyaksikan kepunahan bahasa daerah, "UNESCO menemukan dari sekitar 7.600 bahasa di dunia, 1 bahasa menemui kepunahan setiap dua minggu," tukas Armiati.

Bahasa Bakumpai sendiri telah resmi diakui sebagai bagian dari 718 bahasa daerah di Indonesia, dan masuk 10 bahasa daerah di Kalimantan Selatan. Namun pengakuan saja tidak cukup.

“Kepunahan terjadi ketika bahasa tidak lagi dipakai dan tidak diwariskan kepada generasi berikutnya. Hal yang bisa dilakukan sekarang bukan menghentikan kehilangan, tapi memperlambat kepunahan," tegasnya.

Negara sebenarnya telah memberi payung hukum untuk pelestarian bahasa daerah. Mulai dari UUD 1945 Pasal 32 ayat (2), hingga Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2014. 

Hapakat kembali menggelar diskusi terpumpun dengan tema 'Keberadaan Bahasa Bakumpai: Dari Hulu (Bi Ngaju) sampai Hilir (Ngawa)', Jumat (23/01/2026) sore. Foto: Kabar Kalsel

Namun perlindungan bahasa tidak bisa berjalan sendiri tanpa keterlibatan masyarakat. Faktanya Bahasa Bakumpai berada dalam kategori rentan, karena digunakan maupun dikenal anak-anak dan generasi tua, tetapi jumlah penutur terus menyusut.

"Makanya sejak 2023, Balai Bahasa Kalsel melakukan beberapa upaya revitalisasi Bahasa Bakumpai melalui rapat koordinasi, bimbingan teknis guru, pengimbasan, pemantauan dan evaluasi, serta penyelenggaraan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI)," beber Armiati.

Kerentanan yang mengiringi status Bahasa Bakumpai, dikonfirmasi data lapangan. Dari 329.799 penduduk Barito Kuala (Batola) yang menghimpun mayoritas penutur Bahasa Bakumpai di Kalsel, hanya sekitar 4,7 persen menggunakan bahasa ini dalam percakapan sehari-hari.

“Dari 17 kecamatan di Batola, Bahasa Bakumpai hanya aktif digunakan di 3 kecamatan yang mencakup 21 desa,” beber Rusdiansyah yang menjadi Koordiantor Hapakat.

Kreol Bandar Tua

Fakta kurang menyenangkan tersebut seharusnya menjadi perhatian, mengingat Bahasa Bakumpai diyakini lahir di Marabahan sebagai bahasa kreol.

Kreol merujuk kepada bahasa atau orang yang muncul dari percampuran budaya dan bahasa. Biasanya terbentuk ketika pidgin (bahasa kontak sederhana) berkembang menjadi bahasa ibu yang lengkap dengan penutur asli. 

Keyakinan tersebut juga merujuk sejarah bahwa Muara Bahan merupakan salah satu bandar vital di abad XIX, karena menyuplai berbagai komoditas yang diperlukan oleh Kerajaan Banjar.

Terletak di pertemuan Sungai Barito dan Sungai Nagara, Marabahan disinggahi kapal-kapal besar yang membawa komoditas dari hulu (Dayak Ngaju) maupun barang dagangan dari pesisir (Banjar). 

Bahkan beberapa studi sejarah menyebutkan bahwa Marabahan memiliki nilai historis yang lebih tua dibandingkan Bandarmasih (Banjarmasin). 

"Dalam teori bahasa, perdagangan merupakan salah satu faktor utama dalam pembentukan dan perkembangan bahasa baru," sahut pakar linguistik dari Universitas Palangka Raya (Unpar) Iwan Fauzi.

Para pemantik seperti pakar linguistik dari Universitas Palangka Raya (Unpar) Iwan Fauzi, Prof Rizali Hadi, dan H Johansyah politisi dari Kalimantan Tengah bersama peserta diskusi dan inisiator Hapakat. Foto: Kabar Kalsel

Melalui interaksi dagang, budaya dan bahasa saling bertemu, menyebabkan pertukaran kosakata, penyederhanaan struktur bahasa, hingga kelahiran bahasa perantara.

Namun setelah denyut perdagangan beralih ke Bandarmasih, Muara Bahan berangsur-angsur menjadi sepi. Ironisnya kesepian ini berlangsung hingga ratusan tahun kemudian.

"Berkaca dari keruntuhan Kerajaan Samudera Pasai, bahasa kreol berangsur-angsur akan hilang setelah bandar lama ditinggalkan," tukas Iwan.

Dalam tinjauan linguistik, Bahasa Bakumpai memiliki kesamaan leksikal 80 persen dengan Bahasa Dayak Ngaju, sementara dengan Bahasa Banjar sekitar 30 persen. 

Balai Bahasa juga mencatat perbedaan isolek Bahasa Bakumpai dengan Bahasa Banjar hanya 68,75 persen. Sebaliknya perbedaan dengan Bahasa Dayak Deah, Bahasa Dayak Meratus Bukit, dan Bahasa Dayak Meratus mencapai lebih dari 70 persen.

Kalau kemudian Bahasa Bakumpai juga digunakan masyarakat Barito Utara dan Murung Raya di Kalimantan Tengah, ini tidak lepas dari peran pedagang-pedagang dari Dayak Ngaju yang berniaga di Muara Bahan. 

Dari semula bahasa perdagangan, lambat laun Bahasa Bakumpai menjadi bahasa ibu di Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito, khususnya Barito Utara dan Murung Raya. 

Di sisi lain, tak sedikit Dayak Bakumpai yang berniaga dan menetap ke hulu hingga Sungai Katingan sebagaimana diungkap Prof Rizali Hadi dalam buku 'Mengungkap Peran Orang Dayak Bakumpai Memelopori Perdagangan Ke Sungai Katingan (2015)'.

Kuat di Hulu

Berbeda dengan di Marabahan, Bahasa Bakumpai masih mayoritas sehari-hari di Murung Raya. Dari 10 kecamatan, hanya di Tanah Siang yang tidak semua penduduk menggunakan Bahasa Bakumpai.

"Kami sepenuhnya mendukung agar Bahasa Bakumpai jangan sampai hilang," papar H Johansyah, anggota DPRD Murung Raya yang lahir di Marabahan. 

"Tidak hanya kuat di Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito, tetapi juga di Barito Kuala. Mudahan melalui forum diskusi yang digelar Hapakat dapat menggali masukan agar kelestarian Bahasa Bakumpai terjaga," harapnya.