Ramai Isu Air PDAM Tak Layak Konsumsi, DPRD Batola Panggil Instansi Terkait
PDAM Barito Kuala (Batola) membantah isu yang menyebut air produksi mereka tidak layak dikonsumsi, karena menggunakan air Sungai Barito sebagai bahan baku.
KABARKALSEL.COM, MARABAHAN - PDAM Barito Kuala (Batola) membantah isu yang menyebut air produksi mereka tidak layak dikonsumsi, karena menggunakan air Sungai Barito sebagai bahan baku.
Penjelasan disampaikan dalam rapat gabungan komisi DPRD Batola, Rabu (28/01/2026) sore yang dipimpin Wakil Ketua II Harmuni.
Rapat dihadiri Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP), Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes), Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH), dan Direktur PDAM Batola yang diwakili Nazhirni selaku Kabag Administrasi dan Keuangan.
Dalam rapat dijelaskan PDAM Batola memiliki laboratorium sendiri yang memeriksa kualitas bahan baku air setiap hari. Dari total 13 parameter kualitas air sesuai Permenkes Nomor 2 Tahun 2023, sebanyak 7 parameter diperiksa setiap hari.
Pemeriksaan dilakukan di Marabahan, Bakumpai, Cerbon, Barambai, dan Rantau Badauh dengan parameter pengujian meliputi bau, total padatan terlarut, kekeruhan, suhu, kandungan besi, dan tingkat keasaman (pH).
“Seluruh parameter memenuhi standar kelayakan. Hanya kandungan besi yang sedikit di atas ambang batas, tetapi tidak signifikan. Hasil pemeriksaan mencatat 0,23 mg/l, sedangkan baku mutu 0,2 mg/l," jelas Nazhirni.
"Namun setelah melalui tahapan pengolahan, kandungan besi akan hilang. Makanya air semakin aman dikonsumsi, terlebih kalau direbus terlebih dahulu sesuai anjuran umum kesehatan," tegasnya.
Berita Terkait:
Ikan Mati Massal di Sungai Barito Batola, Walhi Soroti Pencemaran dan Kelemahan Pengawasan
Dinkes dan DLH Batola Ungkap Kondisi Air Sungai Barito Selama Danum Bangai
PDAM Batola juga membantah pesan berantai yang beredar melalui WhatsApp Group dan media sosial lain selama beberapa hari terakhir.
Isi pesan mengimbau masyarakat mengonsumsi air galon isi ulang atau air mineral dari merek tertentu, serta dan melarang penggunaan air Sungai Barito maupun air PDAM Batola untuk memasak dan minum.
Dalam pesan yang sama juga disebutkan air Sungai Barito tercemar limbah perkebunan kelapa sawit dalam lima hari terakhir, sehingga menyebabkan kematian ikan di Marabahan hingga Desa Sungai Kali di Kecamatan Barambai.
“Pesan tersebut tidak bertanggung jawab dan membuat masyarakat gelisah. Padahal hasil pemeriksaan kualitas air, khususnya di Barambai, masih cukup baik,” beber Nazhirni.
"Laboratorium PDAM Batola pun dilengkapi fasilitas memadai, serta ditangani analisis kimia dan kesehatan. Bahkan di Kalimantan Selatan, hanya 3 perusahaan air minum daerah yang memiliki laboratorium sendiri," sambungnya.
Sementara Kepala Dinkes Batola, Sugimin, juga memastikan pesan berantai tersebut tidak benar. Terlebih laporan hasil pemeriksaan kualitas air hanya disampaikan kepada Bupati dan Sekretaris Daerah Kabupaten (Sekdakab) Batola.
“Sesuai dengan kewenangan, kami memeriksa 19 parameter kualitas bahan baku air. Pemeriksaan rutin dilakukan enam bulan sekali, tetapi kami melakukan pemeriksaan insidentil untuk menyikapi fenomena kematian ikan di Sungai Barito, Sabtu (24/01/2026) malam,” ungkap Sugimin.
Berita Terkait:
Dampak Danum Bangai di Batola Semakin Parah, Puluhan Ribu Ton Ikan Nila Mati
'Panen Raya' Ikan di Sungai Barito Batola, Fenomena Alam atau Krisis Lingkungan?
Pemeriksaan dilakukan di Dermaga Bupati Batola, keramba ikan di Kelurahan Ulu Benteng, PDAM Batola, dan Instalasi Kota Kecamatan (IKK) Barambai.
“Pemeriksaan di Dermaga Bupati Batola menunjukkan sedikit kelebihan kekeruhan, pH, timbal, dan aluminium. Sementara di PDAM Batola, parameter pH, mangan, timbal, dan aluminium juga sedikit melebihi standar Permenkes Nomor 2 Tahun 2023,” jelas Sugimin.
Hasil pemeriksaan dinilai tidak mengejutkan, karena keempat parameter tersebut juga ditemukan dalam pemeriksaan berkala dan bukan semata-mata akibat fenomena danum bangai.
"Keasaman air Sungai Barito memang sulit menyesuaikan standar, karena dipengaruhi karakter air gambut. Demikian pula mangan dan aluminium. Hasil pemeriksaan pH hanya 5,4 poin, tetapi tak mempengaruhi derajat kesehatan," tukas Sugimin.
"Makanya kami menyimpulkan danum bangai tidak memengaruhi kualitas air minum masyarakat, maupun sebagai bahan baku PDAM yang didistribusikan kepada masyarakat," tambahnya.
Anggota Komisi III DPRD Batola, Saleh, mengapresiasi respons cepat instansi terkait yang langsung melakukan pemeriksaan lapangan.
Namun diberikan catatan penting, terkait arti penting komunikasi yang cepat dan terkoordinasi dari pemerintah untuk meredam keresahan publik.
“Terkait isu yang berkembang di masyarakat, sebaiknya ditanggapi cepat oleh pemerintah melalui satu pintu agar tidak menimbulkan kegelisahan,” tutup Saleh.