Dapat Tambahan Helikopter, Peran Satgas Udara Karhutla di Kalsel Diperkuat

Menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sedang berkecamuk, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menambah dukungan armada udara untuk Kalimantan Selatan.

Aug 22, 2026 - 15:26
Aug 23, 2026 - 01:26
Dapat Tambahan Helikopter, Peran Satgas Udara Karhutla di Kalsel Diperkuat
Dua armada satgas udara yang digunakan untuk penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan. Foto: Antara

KABARKALSEL.COM, BANJARBARU - Menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sedang berkecamuk, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menambah dukungan armada udara untuk Kalimantan Selatan.

Bantuan untuk memperkuat satgas udara tersebut berupa 2 unit helikopter. Sebuah di antaranya dipastikan segera tiba dari Riau, sedangkan sisanya masih menunggu kepastian dukungan dari Nusa Tenggara Timur (NTT).

"Helikopter dari Riau dijadwalkan tiba di Kalsel, Minggu (23/08/2026)," papar Kasubbid Kesiapsiagaan Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel, Ariansyah, dikutip dari Antara, Sabtu (22/06/2026). 

"Sementara helikopter dari NTT masih masuk dalam permintaan dukungan lanjutan. Waktu kedatangan belum dapat dipastikan," imbuhnya.

Tambahan armada merupakan tindak lanjut Rakor Penanganan Darurat Karhutla 2026, Jumat (21/08/2026). Diputuskan bahwa Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, Sumatera Selatan, dan Jambi sebagai wilayah prioritas penanganan karhutla.

Penetapan tersebut berkaitan dengan risiko karhutla yang diprediksi BNPB mencapai puncak antara Agustus hingga September 2026. 

Adapun Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan fenomena el nino akan terjadi hingga awal 2027, sehingga mengakibatkan cuaca akan lebih kering dengan durasi waktu lebih lama.

Di sisi lain, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) belum dapat dilakukan hingga akhir Agustus 2026 karena keterbatasan pertumbuhan awan hujan.

Sementara di Kalsel hingga 21 Agustus 2026, tercatat 1.651 kejadian karhutla dengan luas area terbakar mencapai sekitar 6.905,67 hektare. 

Kondisi tersebut membuat pemantauan dari udara menjadi semakin penting, terutama wilayah yang sulit dijangkau oleh satgas darat.

Sebelumnya satgas udara telah memiliki 5 armada untuk mendukung operasi karhutla yang terdiri dari 3 helikopter water bombing, 1 helikopter patroli, dan 1 pesawat patroli.

Ketiga helikopter tersebut adalah MI-8AMT/RA-22834, dan AS332C1 Superpuma/PK-DAN yang masing-masing mampu membawa hingga 4.000 liter air dalam satu operasi. 

Sedangkan untuk pemantauan, satgas udara menggunakan helikopter Bell 206 Jet Ranger/PK-IWF dan pesawat C208B-EX.

"Sampai sekarang satgas udara telah beroperasi lebih dari satu bulan bertugas mendukung satgas darat, terutama menangani titik api yang belum terjangkau melalui operasi darat," jelas
Ariansyah.

Dalam sejumlah operasi, masing-masing helikopter telah melaksanakan dua sorti pemadaman untuk menangani beberapa titik kebakaran. Sejumlah lokasi berhasil dipadamkan, tetapi tidak semua titik langsung benar-benar aman.

"Beberapa titik sudah padam, tetapi beberapa titik lain masih berasap tipis karena luas areal yang terbakar cukup besar untuk dilaksanakan operasi water bombing," tukas Ariansyah.