Fenomena Langka di Pulau Curiak, Bekantan Kembar Pertama Ditemukan Setelah Satu Dekade Konservasi
Kebahagiaan menyelimuti Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak, Desa Marabahan Baru, Kecamatan Anjir Muara, Barito Kuala (Batola).
KABARKALSEL.COM, MARABAHAN - Kebahagiaan menyelimuti Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak, Desa Marabahan Baru, Kecamatan Anjir Muara, Barito Kuala (Batola).
Lahir sepasang bayi bekantan kembar di alam liar yang notabene fenomena jarang terjadi. Kelahiran si kembar terjadi pertengahan Juni 2026 dan berasal dari seekor induk betina dari kelompok alpha.
Kehadiran sepasang bekantan kembar itu pertama kali diketahui tim peneliti, ketika melakukan pemantauan rutin di Pulau Curiak beberapa waktu lalu.
"Saya sangat bersyukur dan sempat meneteskan air mata ketika melihat dua bayi bekantan sedang menyusu," papar Ketua Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI), Amalia Rizki, dikutip dari Antara, Minggu (21/06/2026).
"Selama lebih dari sepuluh tahun mendedikasikan diri untuk konservasi bekantan di Pulau Curiak, baru sekarang saya menemukan kelahiran bayi bekantan kembar," imbuhnya.
Kelahiran kembar dalam kehidupan hewan primata, khususnya kelompok monyet dunia lama seperti bekantan hampir selalu melahirkan satu anak dalam satu masa reproduksi.
Bekantan jantan umumnya mulai bereproduksi sejak usia 4 hingga 5 tahun, sedangkan betina mulai matang reproduksi mulai usia sekitar 4 tahun.
Sedangkan masa kehamilan berlangsung selama 5 hingga 6 bulan. Selanjutnya bayi bekantan dirawat secara berkelompok dengan pola asuh semacam baby sister dalam koloni, terutama dilakukan oleh betina muda.
"Tentunya kelahiran bayi kembar bekantan itu menarik perhatian dunia, terutama dari kalangan akademisi, peneliti dan pegiat konservasi keragaman hayati," beber Amalia.
Salah satunya datang dari Associate Professor Charles Lee dari Singapura yang juga terharu, ketika mendengar kabar kelahiran bayi kembar bekantan tersebut.
Dalam keterangan tertulis, Charles menyebut pertumbuhan populasi bekantan yang sehat di Pulau Curiak merupakan bukti nyata keberhasilan upaya konservasi.
Prof Tim Roberts dari University of Newcastle di Australia menambahkan kelahiran bayi kembar itu sebagai bukti nyata hasil kerja keras selama satu dekade dalam menyediakan habitat yang aman dan kaya sumber daya untuk bekantan.
Sementara peneliti bekantan dari Wildlife Research Center Kyoto University, Jepang, Ikki Matsuda, menilai fenomena bekantan kembar sangat luar biasa.
Adapun dari dalam negeri, pakar konservasi satwa liar Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Hadi Alikodra, menilai kelahiran bayi kembar menjadi indikator positif bahwa kondisi habitat dan ketersediaan pakan di Pulau Curiak berada dalam kondisi baik.
Namun demikian, kecukupan nutrisi kedua bayi tersebut tetap harus diperhatikan, "Oleh karena lahir dari satu induk, pemantauan intensif akan terus dilakukan guna memastikan pertumbuhan dan perkembangan kedua bekantan itu berlangsung optimal," tukas Amalia.
Dalam catatan SBI, populasi bekantan di Pulau Curiak mencapai 61 ekor atau meningkat tajam dibandingkan 2016 lalu yang hanya berjumlah 14 ekor.
Perubahan itu tidak terjadi secara instan, karena selama bertahun-tahun SBI bersama berbagai pihak merehabilitasi ekosistem.
Salah satunya menanam lebih dari 50 ribu pohon rambai untuk membentuk habitat mangrove dan pulau-pulau kecil baru di sekitar kawasan tersebut.
Pulau Curiak sendiri yang awalnya hanya seluas 2,7 hektare, juga berkembang menjadi 10 hektare. Lokasi ini berjarak tidak jauh dari kawasan konservasi habitat bekantan di Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Bakut yang dikelola Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan.
Selain peningkatan populasi bekantan, keberhasilan upaya konservasi di Pulau Curiak juga memberikan dampak besar kepada kehidupan masyarakat sekitar.
Hampir setiap hari puluhan nelayan mendapatkan banyak ikan dan udang di perairan sekitar kawasan mangrove rambai.




