Asap Karhutla Meningkat, Disdik Banjar Buka Opsi Pembelajaran Jarak Jauh
Skema Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) mulai disiapkan Pemkab Banjar untuk mengantisipasi penurunan kualitas udara.
KABARKALSEL.COM, MARTAPURA - Skema Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) mulai disiapkan Pemkab Banjar untuk mengantisipasi penurunan kualitas udara.
Langkah tersebut diambil menyusul peningkatan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam beberapa pekan terakhir.
Kondisi udara menjadi pertimbangan, karena aktivitas belajar mengajar melibatkan anak-anak yang perlu mendapat perlindungan lebih ketika kualitas udara tidak sehat.
Sebagai tindak lanjut, seluruh satuan pendidikan diminta melihat perkembangan kondisi udara, sekaligus memperhatikan kesehatan siswa dan tenaga pendidik selama kegiatan pembelajaran.
“Tentunya keselamatan dan kesehatan peserta didik menjadi perhatian utama. Kami juga terus memantau kondisi sekolah-sekolah,” papar Kepala Dinas Pendidikan Banjar, Liana Penny, Sabtu (29/08/2026).
Salah satu alternatif yang disiapkan adalah PJJ. Dengan skema ini, kegiatan belajar tetap dapat berlangsung tanpa membuat siswa harus beraktivitas di luar rumah, ketika kualitas udara dalam kondisi yang kurang baik.
“Pembelajaran tetap harus berjalan, tetapi kesehatan peserta didik harus menjadi prioritas. Kami menyiapkan berbagai opsi agar pendidikan tetap berlangsung dengan aman,” beber Liana.
"Kemudian satuan pendidikan harus memperkuat komunikasi dengan orang tua murid. Informasi kondisi udara maupun kesehatan siswa diharapkan dapat segera disampaikan, sehingga dapat diambil langkah yang tepat," imbuhnya.
Sementara dalam catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Selatan, terdapat 389 kejadian karhutla di Banjar dengan luas lahan terdampak 2.285,72 hektare atau terbesar dibanding kabupaten/kota lain.
Sedangkan Banjarbaru mencatat jumlah karhutla tertinggi dengan 421 kejadian, tetapi luas lahan terdampak hanya sebesar 1.547,19 hektare.
Kemudian Tapin tercatat memiliki 3.942 titik hotspot atau tertinggi dibandingkan wilayah lain. Berikutnya Hulu Sungai Selatan mencatat 2.143 titik hotspot, sementara Banjar sebanyak 2.078 titik hotspot.
Wilayah lain seperti Hulu Sungai Utara mencatatkan sebanyak 96 kejadian dengan luas terdampak 517,85 hektare, Tanah Laut 329 kejadian dengan 1.805,05 hektare, dan Barito Kuala 146 kejadian dengan 860,7 hektare.
Selanjutnya Tanah Bumbu 58 kejadian dengan 174,35 hektare, Kotabaru tercatat 48 kejadian dengan luas lahan terdampak 58,07 hektare, dan Tabalong 29 kejadian dengan 135,13 hektare.
Berikutnya Balangan 56 kejadian dengan 183,57 hektare, Hulu Sungai Tengah 58 kejadian dengan 156,11 hektare, dan Banjarmasin tercatat 13 kejadian dengan luas lahan terdampak 1,43 hektare.

