Jejak Kepanduan di Kalsel Bermula dari Marabahan, 32 Tahun Sebelum Gerakan Pramuka Lahir

Sejarah kepanduan di Kalimantan Selatan ternyata telah berakar di Marabahan, Barito Kuala (Batola) jauh sebelum Gerakan Pramuka resmi berdiri 1961.

Aug 24, 2026 - 23:02
Aug 25, 2026 - 03:03
Jejak Kepanduan di Kalsel Bermula dari Marabahan, 32 Tahun Sebelum Gerakan Pramuka Lahir
Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) di Marabahan yang semula bernama Borneo Padvinder Organisatie (BPO). Foto: Sejarah Banjar

KABARKALSEL.COM, MARABAHAN - Sejarah kepanduan di Kalimantan Selatan ternyata telah berakar di Marabahan, Barito Kuala (Batola) jauh sebelum Gerakan Pramuka resmi berdiri 1961. 

Mengutip siniar Sejarah Banjar, semuanya bermula 1929 ketika Particuliere Hollands Inlandse School (PHIS) berdiri di Rumah Bulat Marabahan. 

Sekolah yang dikelola Sarekat Islam itu tidak hanya menjadi tempat anak-anak mendapat pendidikan formal. Melalui melalui Borneo Padvinder Organisatie (BPO), para guru PHIS juga membina pemuda melalui kegiatan kepanduan.

Melalui kegiatan tersebut, para pemuda ditempa untuk memiliki kedisiplinan, karakter, dan semangat kebangsaan. Terlebih semasa pemerintahan Hindia Belanda, organisasi kepanduan juga menjadi ruang perjuangan.

Seiring penguatan gerakan kebangsaan, BPO kemudian berganti nama menjadi Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI). Salah satu tokoh KBI di Marabahan yang tercatat dalam sejarah adalah M Ruslan.

Selanjutnya anggota KBI memiliki ciri khas berupa seragam cokelat, kain segitiga, dasi merah putih, dan peci cokelat atau topi rotan.

Namun simbol-simbol tersebut bukan tujuan utama. KBI menjadikan kepanduan sebagai sarana untuk membentuk mental generasi muda sekaligus, menanamkan kecintaan terhadap Tanah Air.

Gerakan KBl kemudian berkembang ke Barabai. Dipimpin Ali Baderun, KBI Barabai memiliki ranting antara lain di Birayang, Rangas dan Karatau sejak 1932.

Perkembangan tersebut berlangsung di tengah pengawasan Belanda. Aktivitas yang membawa semangat kebangsaan bahkan dapat berujung penangkapan.

Suatu ketika anggota KBI berkeliling di jalan utama sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mengibarkan bendera Merah Putih.

Belakangan Ketua Regu KBI bernama Alibasah kemudian ditangkap oleh Politieke Inlichtingen Dienst (Dinas Intelijen Politik Hindia Belanda), lalu sempat ditahan selama 14 hari.

Lantas setahun berselang, KBI Barabai menggelar rapat umum yang bertujuan membangun kesadaran masyarakat. Dalam waktu bersamaan, KBI Kandangan diresmikan di bawah pimpinan Sumartoyo dengan Bustami dan Muhammad Ramli sebagai pendamping.

Melalui berbagai kegiatan KBI, generasi muda ditempa untuk mencintai tanah air, bangsa dan bahasa. Mereka juga diperkenalkan dengan sejarah perjuangan bangsa.

Salah satu peristiwa menarik terjadi 31 Agustus 1933. Ketika Hindia Belanda merayakan Hari Kerajaan Belanda, anggota KBI Kandangan justru memilih meninggalkan kota dan melakukan perkemahan di Padang Batung.

Perjalanan kepanduan di Kalsel sendiri tidak hanya diwarnai BPO dan KBI. Sejumlah organisasi kepanduan berbasis kelompok masyarakat dan organisasi pergerakan turut berkembang. 

Di antaranya Hizbul Wathan (Kepanduan Muhammadiyah, Ansor (Kepanduan Nahdlatul Ulama), Nasrul Umum (Kepanduan Musyawaratutthalibin), dan Surya Wirawan (Kepanduan Parindra).

Berbagai organisasi tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang kepanduan, sebelum akhirnya memasuki babak baru setelah kemerdekaan.

Melalui Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961 tertanggal 20 Mei 1961, Gerakan Pramuka ditetapkan sebagai organisasi kepanduan nasional.

Beberapa bulan kemudian, tepatnya 14 Agustus 1961, Gerakan Pramuka resmi diperkenalkan kepada masyarakat. Selanjutnya 14 Agustus ditetapkan dan diperingati sebagai Hari Pramuka.

Lantas sejak 1961, Kalsel menjadi bagian dari Gerakan Pramuka melalui struktur Kwartir Daerah (Kwarda) dan diiringi pembentukan Kwartir Cabang (Kwarcab) di kabupaten/kota.

Dalam perjalanan Gerakan Pramuka di Kalsel, nama Abdullah Sihamkari juga tercatat sebagai salah seorang tokoh penting karena merancang lencana daerah Kwarda Kalsel yang ditetapkan melalui SK Kwarda Kalsel Nomor KEP-04/D-III/8/67.

Abdullah Sihamkari yang meninggal dunia 18 Maret 2020, juga pernah menjadi pengurus Kwarcab Pramuka Hulu Sungai Tengah (HST) Andalan Urusan Seni dan Budaya.