TNI AU Tebar 2,6 Ton Dry Ice di Kalsel dan Kalteng, Upaya Baru Modifikasi Cuaca

TNI Angkatan Udara (AU) mengerahkan pesawat NC-212 untuk melaksanakan misi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah dalam upaya menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Oct 20, 2026 - 18:12
Oct 20, 2026 - 18:13
TNI AU Tebar 2,6 Ton Dry Ice di Kalsel dan Kalteng, Upaya Baru Modifikasi Cuaca
Pesawat TNI AU jenis NC-212 bernomor registrasi A-2107 melakukan persiapan misi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Lanud Sjamsudin Noor. Foto: Antara

KABARKALSEL.COM, BANJARBARU - TNI Angkatan Udara (AU) mengerahkan pesawat NC-212 untuk melaksanakan misi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah dalam upaya menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Pesawat bernomor registrasi A-2107 tersebut akan membawa bahan semai dry ice yang telah datang dari Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Selasa (20/10/2026).

Total sebanyak 2,6 ton dry ice dan 7 ton Natrium Klorida (NaCl) atau garam yang diantar menggunakan pesawat Hercules untuk mendukung OMC dalam penanganan karhutla di Kalsel dan Kalteng.

Dalam pelaksanaan OMC di Kalsel dan Kalteng yang dijadwalkan hingga 27 Oktober 2026 mendatang, pesawat penebar bahan semai akan bertolak melalui Lanud Sjamsudin Noor di Banjarbaru. 

“Lanud Sjamsudin Noor memfasilitasi penuh OMC menggunakan pesawat TNI AU melalui apron Bandara Internasional Syamsudin Noor,” papar Danlanud Sjamsudin Noor Kolonel Pnb Hilman Lamhot Parasian Ambarita dikutip dari Antara, Selasa (20/10/2026).

Adapun misi udara tersebut dipimpin pilot Mayor Pnb Candra Ary Wijaya dengan melintasi kawasan rawan karhutla. Sementara sortie pertama di atas Palangka Raya dengan ketinggian 8.000 hingga 10.000 kaki.

Pesawat menerjunkan bahan semai dry Iice sebanyak 567 kilogram dengan durasi terbang 2 jam 5 menit. Disusul sortie kedua di Palangka Raya dan Barito Kuala dengan angkutan 800 kilogram bahan semai NaCl selama 1 jam 50 menit.

“Semua langkah taktis penanganan karhutla secara terpadu ini diharapkan mampu menekan potensi titik api secara berkelanjutan, sekaligus menciptakan ruang udara dan lingkungan yang aman," tutup Hilman.

Penggunaan dry ice sendiri diinisiasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), setelah teknologi serupa diterapkan di Sumatera Selatan.

Penyemaian dry ice merupakan metode modifikasi atmosfer yang ditujukan untuk mengurangi konsentrasi asap maupun polusi. Khusus kondisi karhutla, asap yang pekat dapat terperangkap di lapisan atmosfer akibat lapisan inversi. 

Dalam kondisi normal, suhu udara cenderung semakin rendah di lapisan atmosfer yang semakin tinggi. Namun di lapisan inversi, kondisi ini berubah sehingga atmosfer menjadi relatif stabil dan asap sulit bergerak naik.

Metode tersebut ditujukan untuk membantu melabilkan atmosfer, sehingga asap karhutla yang terperangkap akibat lapisan inversi dapat bergerak naik dan menyebar, sehingga konsentrasi berkurang dan visibility meningkat.

Berbeda dengan material NaCl yang berwujud serbuk halus dan sering digunakan untuk OMC hujan, material dry ice berbentuk seperti butiran berukuran sekitar 3 milimeter dan memiliki titik dingin sekitar -75 derajat celcius.

Sebelumnya OMC keempat sudah dilakukan di Kalsel dalam periode 10 hingga 16 Oktober 2026. Bedanya bahai semai yang ditaburkan masih berupa NaCl.