RSUD Abdul Aziz Marabahan Kurang Dokter Spesialis, DPRD Batola Soroti Strategi Anggaran

Kekurangan dokter spesialis di RSUD H Abdul Aziz Marabahan kembali menjadi sorotan DPRD Barito Kuala (Batola).

Feb 17, 2026 - 17:42
Maret 5, 2026 - 04:43
RSUD Abdul Aziz Marabahan Kurang Dokter Spesialis, DPRD Batola Soroti Strategi Anggaran
DPRD Batola memastikan dukungan terhadap peningkatan kualitas pelayanan RSUD H Abdul Aziz Marabahan. Foto: Kabar Kalsel

KABARKALSEL.COM, MARABAHAN - Kekurangan dokter spesialis di RSUD H Abdul Aziz Marabahan kembali menjadi sorotan DPRD Barito Kuala (Batola). 

Kekurangan tersebut sejatinya bukan masalah baru, melainkan persoalan lama yang belum maksimal ditangani dan berdampak kepada pelayanan kesehatan masyarakat.

“Persoalan kekurangan dokter spesialis di RSUD H Abdul Aziz Marabahan bukan masalah baru,” ungkap Ketua Komisi I DPRD Batola, Hj Arfah, Selasa (17/02/2026).

Mengutip siniar RSUD H Abdul Aziz Marabahan, tersedia 3 dokter spesialis penyakit dalam, 2 dokter gigi, 2 dokter spesialis anak, dan 2 dokter spesialis obstetri dan ginekologi.

Kemudian masing-masing 1 dokter gigi spesialis periodonsia, spesialis paru, spesialis kedokteran jiwa, spesialis dermatologi dan venereologi, spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi, 
spesialis THT, spesialis bedah, spesialis gizi klinik, dokter umum dan psikolog klinis.

Arfah yang juga Ketua DPC Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Batola itu menilai salah satu penyebab utama kekurangan dokter spesialis adalah keterbatasan sumber daya manusia.

Kemudian anggaran kesehatan dinilai belum memadai untuk menunjang peningkatan kompetensi dokter, khususnya pembiayaan pendidikan dokter spesialis.

"Makanya kami mendorong pemerintah daerah berani mengalokasikan anggaran untuk membiayai pendidikan dokter spesialis," tegas Arfah.

Namun dukungan tersebut harus dibarengi komitmen kuat dari penerima beasiswa, "Tentunya setelah menyelesaikan pendidikan, mereka wajib mengabdi minimal selama 10 tahun di daerah,” tukas Arfah.

Komitmen tersebut menjadi evaluasi pengalaman sebelumnya, ketika program pembiayaan pendidikan dokter oleh pemerintah daerah tidak berjalan sesuai harapan.

“Pernah terjadi seorang dokter yang tidak kembali ke daerah setelah merampungkan pendidikan. Tentu saja ini situasi ini merugikan,” beber Arfah.

Selain faktor pendidikan, insentif dokter spesialis di Batola juga terbilang rendah dibandingkan daerah lain. Kondisi ini dinilai turut memengaruhi minat dokter untuk bertugas di Bumi Selidah.

“Insentif tersebut perlu menjadi perhatian serius pemerintah daerah sebagai salah satu upaya mempertahankan eksistensi tenaga medis profesional di RSUD Abdul Aziz Marabahan," beber Arfah.

"Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan pelayanan kesehatan untuk masyarakat Batola dapat terus ditingkatkan," tutupnya.