Produksi Sawit Batola Capai 37.985 Ton, DPRD Perkuat Sinergi dengan PPKS

Komoditas kelapa sawit yang menjadi andalan Barito Kuala (Batola) terus diperkuat dari hulu hingga hilir.

Feb 27, 2026 - 22:36
Maret 5, 2026 - 04:36
Produksi Sawit Batola Capai 37.985 Ton, DPRD Perkuat Sinergi dengan PPKS
Komisi III DPRD bersama Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Batola melakukan kunjungan kerja ke Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Kamis (27/02/2026). Foto: Disbunnak Batola

KABARKALSEL.COM, MEDAN – Komoditas kelapa sawit yang menjadi andalan Barito Kuala (Batola) terus diperkuat dari hulu hingga hilir. 

Untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan, Komisi III DPRD bersama Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Batola melakukan kunjungan kerja ke Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Kamis (27/02/2026).

Dipimpin langsung Wakil Ketua I DPRD Batola, Harmuni, kunjungan tersebut bertujuan memperkuat sinergi pengembangan sawit yang lebih produktif, berkelanjutan, dan bernilai tambah untuk masyarakat.

“Kami ingin memastikan pengembangan sawit di Batola tidak hanya fokus kepada produksi, tetapi juga kualitas benih dan hilirisasi. Dengan begitu, nilai tambah komoditas ini bisa dirasakan langsung oleh petani dan masyarakat,” ungkap Harmuni.

Dalam kesempatan itu, rombongan mendapatkan pemaparan terkait varietas unggulan sawit, sistem perbenihan, hingga potensi hilirisasi produk turunan.

PPKS yang merupakan bagian dari PT Riset Perkebunan Nusantara, diketahui memiliki sejumlah varietas unggul PPKS. 

Salah satunya DxP Simalungun dengan potensi Tandan Buah Segar (TBS) 33,7 ton per hektare per tahun, serta Crude Palm Oil (CPO) 10,4 ton per hektare per tahun.

Kemudian varietas DxP 540 NG yang memiliki pelepah pendek dan tercatat mempunyai produktivitas tinggi, serta Dumpy, Yangambi, dan Langkat.

Tidak hanya varietas, PPKS menghasilkan sekitar 47 produk dari hulu maupun hilir seperti paket teknologi dan teknologi pengolahan minyak kelapa sawit, serta dilengkapi fasilitas layanan berupa 11 jenis pelayanan jasa, dan 16 laboratorium analisis. 

“Kami mendapat banyak ilmu dan tambahan pengetahuan terkait perbenihan sawit, bahkan sampai pengolahan. Salah satu yang menarik adalah minyak merah,” jelas Kepala Disbunnak Batola, Lasiman, seusai melakukan kunjungan.

Diketahui minyak merah (refined palm oil) adalah minyak nabati sehat hasil penyulingan minyak sawit mentah tanpa melalui proses bleaching (pemucatan), sehingga mempertahankan warna merah alami, aroma kuat, dan nutrisi tinggi.

Disebut-sebut minyak merah juga kaya fitonutrien, vitamin A (karoten), vitamin E, dan asam lemak, serta berpotensi mencegah stunting.

Komoditas Besar

Mengutip Batola Dalam Angka 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), luas areal tanaman perkebunan sawit di Batola mencapai 6.560 hektare hingga akhir 2024.

Kecamatan dengan areal terluas adalah Wanaraya seluas 2.287 hektare, Barambai 1.017 hektare, Marabahan 637 hektare, Jejangkit 534 hektare dan Tabukan 495 hektare.

Sementara untuk perkebunan rakyat, kelapa sawit juga menjadi komoditas dominan dengan luas 2.351 hektare.

Adapun sepanjang 2024, produksi kelapa sawit Batola tercatat mencapai 37.985,87 ton dan menjadikan komoditas perkebunan terbesar.

Sedangkan selain sawit, Batola juga memproduksi komoditas kelapa seberat 5.589,10 ton, karet 3.308,08 ton, purun 377,61 ton, dan sagu 5,79 ton.