Bukan Sekadar Memadamkan Api, Polres Batola Mulai Periksa Terindikasi Pelaku Karhutla

Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Barito Kuala (Batola) mulai diarahkan kepada upaya mengungkap pihak yang diduga menjadi pemicu kebakaran.

Aug 27, 2026 - 22:17
Aug 28, 2026 - 02:45
Bukan Sekadar Memadamkan Api, Polres Batola Mulai Periksa Terindikasi Pelaku Karhutla
Kapolres Batola AKBP Susilawati ikut membantu pembasahan lahan yang baru terbakar di Desa Bahandang, Kecamatan Jejangkit, Kamis (27/08/2026). Foto: Istimewa

KABARKALSEL.COM, MARABAHAN - Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Barito Kuala (Batola) mulai diarahkan kepada upaya mengungkap pihak yang diduga menjadi pemicu kebakaran. 

Bahkan Polres Batola telah memeriksa sejumlah orang yang terindikasi sebagai pelaku pembakaran lahan. Upaya penegakan hukum sendiri juga menjadi bagian dari upaya penanggulangan karhutla.

"Kami sudah memeriksa beberapa orang yang terindikasi pelaku pembakar lahan," papar Kapolres Batola AKBP Susilawati seusai peninjauan posko terpadu penanganan karhutla di Kecamatan Jejangkit, Kamis (27/08/2026).

Selain melakukan pemeriksaan, Polres Batola juga mendirikan posko komando karhutla sekaligus mempertebal kekuatan personel, terutama di Kecamatan Jejangkit dan Marabahan.

Langkah tersebut dilakukan menyusul penambahan kejadian karhutla. Berdasarkan data terakhir Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Selatan, Batola berada di peringkat keenam daerah dengan kejadian karhutla terbanyak.

Tercatat 137 kejadian dengan lahan terdampak 851,7 hektare. Sedangkan hotspot berjumlah 328 titik yang tersebar di Jejangkit, Cerbon, Marabahan, Anjir Pasar, Wanaraya, Bakumpai, Tabukan dan Kuripan.

Berita Terkait:

6 Lokasi Karhutla Dipasangi Police Line, Polres Banjarbaru Selidiki Dugaan Kesengajaan

42 Perusahaan Terindikasi Terkait Karhutla di Kalimantan, Sanksi dan Biaya Pemulihan Akan Dijatuhkan

Adapun Banjar di posisi teratas dengan 369 kejadian dengan lahan terdampak 2.161,32 hektare. Disusul Tanah Laut 313 kejadian dengan lahan terdampak 1.752,22 hektare. 

Berikutnya Banjarbaru 354 kejadian dengan lahan terdampak 1.374,5 hektare, Hulu Sungai Selatan 263 kejadian dengan lahan terdampak 1.393,65 hektare dan Tapin 160 kejadian dengan lahan terdampak 952,8 hektare.

Pengawasan juga diperkuat melalui peran seluruh Bhabinkamtibmas di desa-desa. Mereka diminta aktif mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

"Dalam upaya penanggulangan, kami dibantu PT Putra Bangun Bersama (PBB) melalui penyelenggaraan sayembara berhadiah Rp5 juta untuk pemberi informasi pelaku pembakar hutan dan lahan," jelas Susilawati.

"Tentunya informasi yang diberikan harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan, karena pengungkapan sumber api menjadi bagian penting untuk mencegah kejadian serupa berulang," tutupnya.