Ikan Mati Massal di Sungai Barito, DPRD Batola Merekomendasi Kajian Komprehensif

Dalam upaya memitigasi, DPRD Barito Kuala (Batola) merekomendasikan kajian komprehensif atas penyebab kekurangan oksigen terlarut yang menyebabkan kematian ikan di Sungai Barito.

Jan 28, 2026 - 23:34
Jan 29, 2026 - 01:44
Ikan Mati Massal di Sungai Barito, DPRD Batola Merekomendasi Kajian Komprehensif
Wakil Ketua I DPRD Batola, Harmuni, memimpin rapat komisi gabungan yang membahas kematian massal ikan di Sungai Barito, Rabu (28/01/2026). Foto: Istimewa

KABARKALSEL.COM, MARABAHAN - Dalam upaya memitigasi, DPRD Barito Kuala (Batola) merekomendasikan kajian komprehensif atas penyebab kekurangan oksigen terlarut yang menyebabkan kematian ikan di Sungai Barito.

Setidaknya dalam sepekan terakhir, Dissolved Oxygen (DO) atau oksigen terlarut dalam air berada di level rendah. Akibatnya banyak ikan berbagai ukuran yang mati lemas.

"Kami melakukan pemeriksaan rutin setiap enam bulan," ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Batola, Abdi Maulana, dalam rapat bersama komisi gabungan DPRD, Rabu (28/01/2026).

"Sampai akhir 2025, tidak ditemukan kejadian luar biasa. Namun sejak 24 Januari 2026, terjadi penurunan DO hingga 1,25 mg/l. Semestinya baku mutu minimal untuk sungai kelas II seperti Sungai Barito adalah 4 mg/l," sambungnya.

Berita Terkait:

Ramai Isu Air PDAM Tak Layak Konsumsi, DPRD Batola Panggil Instansi Terkait

Dinkes dan DLH Batola Ungkap Kondisi Air Sungai Barito Selama Danum Bangai

Pun terpantau dari Online Monitoring (Onlimo) yang terkoneksi ke server Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), ditemukan parameter melebihi baku mutu di Tapin, Hulu Sungai Tengah dan Tabalong. 

"Kemudian pengecekan intensif dilakukan, Senin (26/01/2026) di Desa Sungai Lirik, depan Kodim 1005 Batola, pertemuan Sungai Nagara dan Barito di Kelurahan Lepasan, Ulek Marabahan, Desa Penghulu dan sekitar Jembatan Rumpiang," beber Abdi.

"Keasaman (pH) sudah rata-rata 6, tetapi penurunan DO masih mencolok antara 0,15 hingga 0,91 mg/l. Hanya di sekitar Jembatan Rumpiang yang mencapai 3,11 mg/l," tambahnya.

Pengecekan berikutnya dilakukan di perbatasan Kelurahan Ulu Benteng di Kecamatan Marabahan dengan Desa Palingkau di Kecamatan Bakumpai. DO yang terdeteksi mencapai 1,89 mg/l. 

Sementara pengecekan di Dermaga Sungai Gampa, Kecamatan Rantau Badauh, DO yang tercatat lebih rendah hingga 0,43 mg/l dengan pH 4.

Berita Terkait:

Dampak Danum Bangai di Batola Semakin Parah, Puluhan Ribu Ton Ikan Nila Mati

'Panen Raya' Ikan di Sungai Barito Batola, Fenomena Alam atau Krisis Lingkungan?

Dampak buruk kekurangan DO langsung dirasakan pembudidaya ikan dalam keramba apung, khususnya di Kecamatan Marabahan dan Bakumpai. Sekitar 93.930 kilogram ikan mati dengan estimasi total kerugian Rp3,287 miliar.

"Sebanyak 25 kelompok pembudidaya ikan (pokdakan) di Marabahan dan Bakumpai yang terdampak. Mayoritas kondisi DO di sekitar keramba berada di level rendah," timpal Suwartono Susanto, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Batola.

Namun demikian, belum diketahui pemicu penurunan oksigen terlarut dalam air di Sungai Barito. Mengutip Jurnal Perikanan dan Kelautan 2025, penurunan DO umumnya dipicu peningkatan bahan organik atau limbah, suhu air tinggi, dan kondisi eutrofikasi atau kelebihan nutrisi di perairan. 

Diketahui Sungai Barito sekarang mengalami penyusutan debit air. Kondisi ini juga membuat kemampuan sungai dalam menetralkan pencemaran semakin menurun.

Pun berkaca dari kejadian serupa di akhir 2019, hanya ikan dalam keramba apung yang terdampak. Sebaliknya hampir tidak ditemukan ikan liar yang mati dengan gejala serupa.

Berita Terkait:

Ikan Mati Massal di Sungai Barito Batola, Walhi Soroti Pencemaran dan Kelemahan Pengawasan

Danum Bangai Hantam Sungai Barito Harga Ikan di Marabahan Batola Masih Terkendali

"Memang perlu kajian mendalam dan peralatan memadai untuk mengetahui pemicu penurunan DO, karena banyak faktor yang memengaruhi," tukas Abdi. 

"Namun demikian, hasil pengujian yang menunjukkan penurunan kadar DO merupakan identifikasi awal. Terlebih sampai sekarang, level DO masih rendah hingga 1,11 mg/l," sambungnya.

Agar kejadian serupa tidak terulang dan meminimalisasi dampak kerugian, DPRD Batola pun merekomendasikan pemerintah daerah untuk melakukan langkah-langkah strategis.

"Dibutuhkan kajian komprehensif yang melibatkan instansi terkait, ahli dan akademisi untuk memastikan penyebab penurunan oksigen terlarut dalam air," tegas Harmuni, Wakil Ketua I DPRD Batola yang sekaligus pimpinan rapat.

"Sementara dalam jangka pendek, DKPP Batola sudah berkoordinasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kalimantan Selatan dan Balai Perikanan Budi Daya Air Tawar (BPBAT) Mandiangin untuk mengupayakan bantuan (bibit)," tutupnya.